Komnas Perlindungan Anak Minta Bupati Bogor Penanganan Kasus Y Menjadi Prioritas

Iklan Semua Halaman

Loading...

Header Menu

Komnas Perlindungan Anak Minta Bupati Bogor Penanganan Kasus Y Menjadi Prioritas

Solo Daily
Senin, 28 Oktober 2019
Komnas Perlindungan Anak Minta Bupati Bogor Penanganan Kasus Y Menjadi Prioritas

SOLODAILY.ID ■ Dua pelaku jaringan perdagangan anak untuk tujuan eksploitasi seksual komersial dengan modus prostitusi online di Kabupaten Bogor masing-masing dilakukan  Y perempuan berusia 28 tahun dan  GG  laki-laki berusia 30 tahun yang  diungkap Satuan Reserse Umum (Satreskrimum) Polres Bogor  terancam pidana 15 tahun  penjara.

Dengan terbongkarnya kasus perdagangan anak untuk tujuan eksploitasi seksual komersial ini, KOMNAS Perlindungan Anak mendesak segera Bupati dan Walikota Bogor untuk menjadikan  kasus ini menjadi masalah prioritas yang harus segera ditangani.

"Sesungguhnya,  terbongkarnya kasus prostitusi anak ini bukanlah untuk yang pertama kali. Kasus ini sudah sering terjadi,  hanya saja penanganannya masih sangat lambat sekali," kata Arist Merdeka Sirait Ketua Umum KOMNAS Perlindungan Anak kepada awak media di Studio KOMNAS ANAK TV  dibilangan Pasar Rebo, Jakarta Timur Minggu 27/10.

Y  dan GG  diketahui sebagai mucikari memasarkan perempuan-perempuan muda yang masih tergolong usia anak kepada pelanggannya melalui WhatsApp.

Keduanya berhasil ditangkap di salah satu Hotel di Sentul,  Kecamatan Babakan Madang Kabupaten Bogor, pada Selasa 15 Oktober sekitar pukul 19.40 WIB.

Selain mengamankan kedua tersangka,  Polisi juga meminta keterangan dari anak yang diduga dipekerjakan untuk melayani hidung belang melalui modus operandi kedua mucikari  memasang foto-foto anak-anak usia sekitar 14-16 tahun  di akun media sosial ,  kemudian pelaku berkomunikasi dengan pelanggan lalu kemudian mengantarkan korban ke hotel yang sudah dipesan ungkap  Kapolres Bogor AKBP Muhammad Joni di Mako Polres Bogor.

Menurut AKBP M. Joni, saat penangkapan, Satreskrimum Polres Bogor mengamankan kedua pelaku dan  anak  yang  menjadi korban eksploitasi  seksual komersial serta menyita sejumlah barang bukti antara lain 3 buah handphone,  1 buah kondom,  1 buah baju korban,  1 buah handuk,  1 buah mobil Honda Brio dan uang sejumlah Rp. 3.000.000  (Tiga Juta Rupiah).

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya atas kasus ini,  pelaku dapat dikenakan dengan pasal berlapis yakni pasal 2 Undang-undang Nomor  : 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak pidana perdagangan orang dan atau pasal 296 KUH Pidana dengan ancaman 15 tahun penjara, demikiam Arist menjelaskan. (rls)